Informasi Mencegah Ancaman Bencana dan Meminimalisir Efek Rusak

Informasi Mencegah Ancaman Bencana dan Meminimalisir Efek Rusak

Jakarta, Mediakreasinews —
Badan Informasi Geospasial (BIG) mengadakan media gathering dengan tema “Pemanfaatan Informasi Geospasial dalam Mitigasi Bencana”. Hadir Deputi Bidang Informasi Geospasial Dasar, Badan Informasi Geospasial (BIG) Mohamad Arief Syafi’i, Ferrari Pinem dan Yosef Prihanto. Kegiatan ini dilaksanakan di Restauran The Hook, Cikatomas, kamis (11/10).
Kebutuhan akan Informasi Geospasial (IG) semakin dirasakan setelah kejadian bencana alam dan tsunami yang menerjang Sulawesi Tengah (Suteng). Badan Informasi Geospasial (BIG) salah satu badan mengurusi kebencanaan dan perubahan iklim.

“Posisi Indonesia tersebut menjadi rawan bencana alam mulai dari kekeringan, banjir, gempa, erupsi gunung berapi, hingga tsunami. Bahkan, bisa dibilang hampir seluruh wilayah di Indonesia tidak ada yang bebas bencana. Tidak heran, jika ada yang menyebut Indonesia adalah supermarket bencana. Ucap Mohamad Arief Syafi’i, saat menguraikan kepada awak media.

“Masyarakat juga mulai sadar, perlu adanya peta rawan bencana yang berisi segala informasi terkait bencana, dari mulai gunung api hingga lempeng bumi yang rawan bergeser. Peta bencana ini nantinya dapat digunakan untuk banyak hal, termasuk menentukan lokasi pembangunan.” Lanjut Syafi’i.

Indonesia secara geografis terletak di antara dua samudera, yaitu Samudera Hindia dan Pasifik. Indonesia juga diapit dua benua, yaitu Benua Asia dan Australia.

Kalau Geologis, Indonesia dilalui dua rangkaian pegunungan besar di dunia, yaitu Sirkum Pasifik dan Mediterania. Sirkum Pasifik dimulai dari pegunungan Los Andes di Amerika Selatan, pegunungan di Amerika Tengah, Rocky Mountin di Amerika Utara, Kepulauan Aleuten, Jepang, Filipina, dan masuk ke Indonesia melalui tiga jalur, yaitu Kalimantan, Sulawesi, dan Halmahera berlanjut ke kepala burung Papua dan membentuk tulang punggung pegunungan di Papua, Australia, dan berakhir di Selandia Baru.

Sementara, Sirkum Mediterania sambungan dari jalur pegunungan di sekitar Laut Tengah, yaitu Afrika Utara, Spanyol, Alpen, Alpenia, Semenanjung Balkan, membujur ke pegunungan Himalaya, Myanmar, Malaysia, kemudian menyeberang ke Indonesia.

Indonesia juga berada di pertemuan lempeng litosfer, yaitu Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara, sedangkan Lempeng Indo-Australia bertubrukan dengan Pasifik di utara Irian dan Maluku Utara.

Dampak bencana, jika berdampak langsung pada manusia. Jika tidak berdampak langsung pada manusia, maka hal tersebut merupakan siklus alam. Banyak yang belum menyadari, 70 persen bencana di Indonesia disebabkan karena keberadaan maupun ketidak beradaan air.

“Bencana yang sebagian besar tidak bisa diprediksi tak dapat ditolak. Mau tidak mau, masyarakat Indonesia harus berdamai dengan bencana. Satu-satunya cara meminimalisir dampak bencana adalah dengan mengedukasi masyarakat,” terangnya.

Menurutnya, edukasi yang harusnya didapat masyarakat meliputi disaster life management cycle atau siklus manajemen penanggulangan bencana. Siklus ini pada dasarnya berupaya menghindarkan masyarakat dari bencana, baik dengan mengurangi kemungkinan munculnya hazard maupun mengatasi kerentanan.

Siklus manajemen penanggulangan bencana meliputi kesiapsigaan menghadapi bencana (disaster preparednes), mengurangi dampak bencana (mitigation), tanggap bencana, serta pemulihan pascabencana.

“Untuk itu, diperlukan Informasi Geospasial (IG) pada seluruh rangkaian siklus manajemen penanggulangan bencana. IG dapat dimanfaatkan pada tahap pra, saat terjadi, maupun pascabencana,” unkapnya.

Ia menambahkan, BIG merupakan lembaga pemerintah yang memegang kendali atas IG di Indonesia. Bagi yang awam, IG adalah segala informasi yang ada di bawah, serta di atas permukaan bumi dan dinyatakan dalam bentuk titik koordinat.

Saat ini, seluruh mata dan dukungan sedang tertuju pada Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulteng. Namun, ada yang harus diwaspadai karena bencana lain sudah mengintai. Puncak musim hujan yang diprediksi terjadi pada Januari-Februari 2019 memungkinkan terjadinya banjir. Hal ini harus diwaspadai dari awal agar duka tak merundung negeri ini. (Red)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply