Peta Politik Jelang Pilpres 2019

Peta Politik Jelang Pilpres 2019

Jakarta, Mediakreasinews.com
Forum Nasional Jurnalis Indonesia (FNJI) mengadakan Forum Grup Diskusi tentang “Peta Politik Pilpres 2019”. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Mega Proklamasi, Menteng, rabu (24/10). Dihadiri para jurnalis ibukota, grup diskusi ini membahas pertarungan pilpres 2019. Dengan Narasumber mumpuni, terdiri dari Muchtar Efendi Harahap, Ali Sodikin, dan Ahmad Toha.

Muchtar Efendi Harahap mengatakan, setelah pilpres 2014 Peta politik terbagi dua, New Nasakom, dan non New Nasakom.

“Ini terjadi saat Pilgub DKI, Ahok simbol incumbent mewakili New Nasakom, berhadapan dengan kekuatan islam politik yang diindentikan dengan non New Nasakom. Karena kasus Ahok menista agama. Berlanjut munculnya fenomena ” Anti Incumbency”, berdampak kecewa terhadap sikap dan kebijakan Rezim. ” kata Efendi sebagai nara sumber pada diskusi ini.

Konflik kedua kubu terbelah dua, antara pendukung Ahok dengan non Ahok. Akibatnya masyarakat kecewa dengan “Incumbency”.

” Kekuatan new Nasakom di DKI banyak mengurangi kepentingan kelompok pendukung rezim. Terutama kepentingan reklamasi teluk Jakarta.” Ucap MEH ini.

Sementara pembicara lainnya Ali Sodikin, MSi praktisi media dan dosen perguruan tinggi di salah satu kampus swasta di Jakarta mengatakan, dalam kasus Indonesialeaks masih menggunakan nara sumber anonim tidak seperti kasus wikileaks di luar negeri itu yang membuka secara terang-benderang.

“Memang dalam undang-undang pers ada nara sumber yang di lindungi, namun dalam konteks ketika ada masalah yang di kena delik adalah nara sumbernya bukan medianya kalau mau fair, kritik saya pada teman-teman adalah sering kali tak bisa melepas diri dari fenomena modal dan keharusan bertahan hidup sehingga menjadi lebih partisan pada pemodal dengan menggunakan framing media. Kedepan media harus lebih independen, obyektif, edukatif, menyejukan di tengah kepungan modal dan pertarungan politik yang keras di tahun politik ini”, ujar Ali.

Selain itu, analis media Toha Almansur dalam pemaparannya di depan peserta dari berbagai media ini menegaskan, pertarungan keras antara Jokowi dan Prabowo jilid 2 ini memang sangat tajam di lini media baik mainstream maupun di media sosial tapi pada realitas di lapangannya tak ada pertarungan itu di tingkat bawah.

“Jadi meski tensi tinggi di media, rakyat di tingkat bawah adem-adem saja tak banyak menimbulkan gesekan. Dalam kasus pembakaran bendera tauhid pada peringatan hari santri di Jawa Barat kemarin itu adalah insiden-inseden kecil secara kebetulan dan baru masif kerika ada aksi dan reaksi dari 2 belah pihal namun masih yakin tak banyak berpengaruh atau menimbulkan konflik luas di masyarakat” tegas mantan aktifis pemuda berbasis masa Islam modernis ini.

Menurut analisis Toha, momentum politik saat ini sangat terpengaruhi oleh gerakan besar yang di inisiasi oleh GNPF Ulama yaitu gerakan 411 dan  212 berujung putusan politik berjudul  ijtima ulama jilid I dan II. Kemudian di respon Jokowi dengan mengambil ulama dari 411 dan 212 Kiai Ma’ruf sehingga 411 dan 212 punya pengaruh besar di jagat politik nasional

“Gerakan 411 dan 212 ini adalah sebuah rekayasa politik bagi pendukung pemerintah sedangkan bagi oposisi ini adalah sebuah pembeda untuk memperjuangkan keadilan”, imbuh Toha. (Edo)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply