Bincang Asik Bersama Barantan

Bincang Asik Bersama Barantan

Jakarta — Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) membuat kegiatan Bincang Asik Pertanian Indonesia di Gedung Pusat Informasi Agribisnis, Kementerian Pertanian pada hari Jumat (4/1/19). Dr. Arifin Tasriff, Kepala Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan, Barantan. Mengemukakan, “selama kurun waktu 4 tahun terakhir telah lakukan negosiasi dagang dalam kerangka SPS atau Sanitary and Phytosanitary Measures, komoditas pertanian dengan 18 negara. Saat itu kita terlalu menutup diri, tertinggal dari negara lain. Melalui perjanjian kerjasama SPS ini diharapkan komoditas kita ekspornya terus naik,” tuturnya saat pemaparan.

Hasil kerja peningkatan ekspor pada tahun 2018 komoditas pertanian lewat perjanjian SPS diantaranya adalah Indonesia – Australia CEPA senilai 667,8 juta US$ untuk komoditas coklat, manggis, salak dan kopi, Indonesia – Chile CEPA senilai 143,8 juta US$ untuk komoditas CPO dan jagung, ASIAN Hongkong China FTA senilai 3 miliar US$ untuk komoditas tepung kelapa, mangga, sarang burung walet, madu, coklat, teh dan kopi, sedangkan Indonesia – EFTA CEPA senilai 1,2 miliar US$ untuk komoditas rempah-rempah, kakao, teh, kopi dan produk kayu.

Menurut Arifin, saat ini Indonesia telah berhasil melakukan perundingan perdagangan terutama untuk komoditas pertanian diantaranya Indonesia – European Union CEPA, Indonesia – Australia CEPA, Indonesia – Chile CEPA, Indonesia EFTA CEPA, Indonesia – Iran PTA dan Regional Comprehensive Economic Partnership. Sedangkan yang dalam tahap proses perundingan diantaranya Indonesi – Japan EPA, Indonesia – Pakistan PTA, ASEAN Economic Community dan Indonesia Turkey CEPA.

Upaya menembus pasar tujuan ekspor melalui harmonisasi aturan dari otoritas karantina di negara tujuan ekspor terus dilakukan Barantan. Hal ini sejalan dengan instruksi Presiden Jokowi tidak hanya meningkatkan volume namun juga membuka market akses bagi jenis komoditas lain yang terus digali. Dukungan akselerasi ekspor produk pertanian diantaranya adalah melakukan perundingan dibidang standar SPS dan prokol SPS negara, menyusun perjanjian protokol karantina dengan negara tujuan ekspor, mempercepat pemenuhan protokol karantina dan proses inline inspection bersama petani, pertukaran data elektronik sertifikat ke negara tujuan dan perundingan penyelesaian kasus SPS seperti untuk komoditas CPO, pala, kopi, teh, manggis dan salak.

Hadir pula dalam diskusi ini adalah para pelaku usaha masing-masing Indah Sofiati, eksportir jeruk purut dengan tujuan negara ekspor Perancis dan Hendro Juwono dari Asosiasi Eksportir dan Importir Sayur dan Buah. “Dukungan Barantan sangat nyata bagi penjaminan mutu dan kesehatan produk pertanian kita, dan surat penjaminan karantina kita dipercaya oleh karantina di Perancis,” kata Indah.

Pengawasan Peredaran Daging Celeng

Peredaran daging celeng atau babi hutan selalu menjadi masalah dan menimbulkan keresahan masyarakat. Data dari Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian (Barantan) selama empat tahun saja sejak 2015, ada 28,9 ton daging celeng ilegal yang dilakukan proses hukum. “Sebenarnya, ini tidak bisa dicegah, tapi harus kita atur dan awasi, sehingga tidak menimbulkan keresahan, ini tugas bersama,” tutur Agus Sunanto, Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani Barantan. Sebagai nara sumber pada acara Bincang Asik Pertanian (Bakpia).

Peredaran daging celeng ini tidak dapat dihindarkan mengingat adanya suplay dan demand, yang bisa pemerintah lakukan adalah mengatur lalulintasnya, agar masyarakat tenang bagi masyarakat yang tidak mengonsumsinya. Bengkulu, Prabumulih dan Banyuasin adalah beberapa daerah penghasil daging celeng terbesar, hal tersebut karena di daerah tersebut, celeng menjadi hama bagi petani dan sasaran empuk bagi para pemburu atau penembak. Sementara permintaan daging celeng diantaranya datang dari Jakarta, Tangerang dan Pangkalpinang. Dari data yang ada, daging tersebut digunakan untuk pakan hewan, seperti di Kebun Binatang Ragunan dan konsumsi. “Permasalahannya adalah kalau ini dioplos dengan daging yang lain dan di jual bebas, nah itu yang kita pikirkan,” jelas Agus.

Salah satu inovasi dan solusi yang digagas Barantan besama instansi terkait di daerah adalah menggunakan Quarantine Tracker. Cara kerja Quarantine Tracker meliputi, daging yang disertifikasi oleh dinas peternakan dan karantina di daerah asal akan dipasangi alat pemindai lokasi atau Global Positioning System, GPS yang dipasang dalam segel di kontainer atau mobil pengangkut daging celeng. Seluruh pergerakan alat angkut tersebut dapat dimonitor secara online oleh petugas karantina dan istansi terkait, jika terjadi kerusakan atau pembongkaran paksa, GPS juga akan memberikan notifikasi. Segel elektronik tersebut akan dibuka ditempat tujuan akhir. Hal ini diharapkan dapat mengurangi distribusi daging celeng ke tempat yang tidak seharusnya.

Provinsi Bengkulu merupakan pemerintah daerah yang cukup antusias dalam membantu penyelesaian permasalah peredaran daging celeng, yakni melalui Dinas Peternakannya yang menjadi pilot project pengawasan daging ini. Selain itu dalam operasional pengawasan selain bekerjasama dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen PKH Kementan, Barantan juga membentuk tim kolaborasi intelejen yang terdiri dari Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian masing-masing di Cilegon, Lampung, Jambi, Padang, Bengkulu dan Belawan. “Sinergitas yang baik dengan Barantan menjadikan komoditas ini dapat memberikan nilai tambah, selain dapat dikonsumsi untuk kelompok masyarakat tertentu,” kata drh. Nopiyem, MMA, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner, Dinas Peternakan Bengkulu.
Menurutnya kini daging celeng asal daerahnya selain dapat lancar dikirim ke Taman Margasatwa Ragunan juga dapat digunakan untuk kebutuhan lain dengan pengawasan.

Tidak hanya mengawasi lalulintas di dalam negeri, pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga mendorong komoditas tersebut untuk dapat diekspor. Hal tersebut karena adanya permintaan dari negara lain seperti Vietnam. “Pada November 2017 kita sertifikasi ekspor daging celeng sebanyak 26,4 ton ke Vietnam, peluang komoditas daging celeng untuk ekspor harus dimanfaatkan.” pungkas Agus. (Barantan/edo)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply