Direktur Eksekutif The Jokowi Center : Kubu 02 Sebar Hoaks Berjamaah

Direktur Eksekutif The Jokowi Center : Kubu 02 Sebar Hoaks Berjamaah

Jakarta – mediakreasinews.com -Pasangan calon 02 Prabowo-Sandi masih melakukan hoaks berjamaah di dunia maya dan dunia nyata. Di dunia maya, mereka menyebarkan bahwa hasil hitung nyata menunjukkan bahwa paslon 02 yang unggul mengalahkan paslon Jokowi-Amin. Sedangkan di dunia nyata memasang spanduk, billboard dan papan bunga selamat kepada paslon 02 atas terpilihnya menjadi presiden periode 2019-2024.

“Kubu Paslon 02 sedang membangun halusinasi seolah-olah menang dan sudah menjadi presiden dan wakil presiden,” ungkap Direktur Eksekutif The Jokowi Center, Teuku Neta Firdaus, Jakarta, Ahad (21/4/2019).

Neta menuturkan agar warga percaya bahwa kubu 02 yang menang versi kubunya, mereka membangun persepsi publik bahwa mereka pemenang pilpres melalui pernyataan, propaganda, dan semua cara oleh pendukungnya. Kubu 02 melontarkan hoaks bahwa laman KPU sudah diserang, upload data yang salah dan sebagainya.

“Pada akhirnya, kubu 02 menyampaikan pesan jika mereka kalah, ini karena dicurangi di KPU. Proses mendelegitimasi ini sangat berbahaya karena menyangkut lembaga negara KPU sebagai penyelenggara pemilu,” ingat Neta.

Direktur Eksekutif The Jokowi Center ini menambahkan, pelaksanaan Pemilu 2019 yang menghabiskan Rp 25 triliun ini harus diselamatkan. Kepada seluruh warga yang masih berpikir rasional diharapkan bisa memberi klarifikasi kepada warga agar tidak bingung oleh pihak yang ingin mengacaukan pelaksanaan Pilpres dan Pileg 2019.

Sekarang kubu 02 menyatakan harus ada pemilu ulang karena kemenangan Jokowi tidak mencapai minimal 17 provinsi. Padahal seperti diketahui pemenang Pilpres 2019 yang diikuti oleh dua paslon tidak ditentukan oleh jumlah provinsi. Sebab di Indonesia menganut sistem suara terbanyak bukan berdasarkan provinsi yang terbanyak menang.

“Karena hanya 2 peserta pilpres dan menurut Putusan MK nomor 50/PUU-XII/2014 tidak berlaku syarat terkait sebaran suara di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia. Dengan demikian, paslon 01 yang memperoleh suara terbanyak yang akan dilantik pada Oktober alias hanya 1 putaran,” kata Lulusan Sarjana Fakultas Ekonomi dan Hukum ini.

Neta mengingatkan, jika masih ada yang menyatakan perolehan suara terbanyak kepada salah satu paslon tidak otomatis memenangkan pilpres jika tidak dibarengi dengan sedikitnya 20% suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia adalah pernyataan tidak berdasarkan hukum dan hanya untuk mengacaukan pemahaman publik. Putusan MK adalah final dan mengikat.

“Siapa yang meraih suara terbanyak, kita tunggu saja hasil pleno KPU pada Insya Allah 22 Mei mendatang. Yakinlah takdir yang mendapat amanah sebagai presiden itu sudah ditetapkan oleh Allah Subhanallahu Wata’ala,” pungkas Neta. (Edo)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply